SEBUAH SAJAK TENTANG KITA

Kita adalah ketabahan kepak sayap burung camar

Yang belajar terbang

Mencoba menatap dunia dari sisi yang berbeda

 

Kita adalah musim

Menunggu daun-daun, juga 10,000 hujan

Untuk berganti

 

Di sini, kita bebas memilah gerbong

Menapaki jalan menuju stasiun

Lantas duduk manis di bangkunya

Menatap dari balik jendela kereta

Hamparan tanah yang hijau

Debur ombak pantai yang menderu

Siluet jingga yang memesona

Dan sebuah metafora

Pada lambaian tangan anak kecil

Yang kagum akan gerbong masa depannya

 

Tapi, kau tahu, kawan

Sebuah sajak tentang kita

Sungguh lebih elegan dibanding itu semua

Sebuah sajak tentang kita

Takkan luput dari ingatan

Dan akan selalu setia

Pada waktu

 

Maka di musim bahagia ini

Kita akan membangun sebuah resital kenangan

Bukan sebagai titik atau penutup

Tapi, yang ingin menetap dan terjaga

 

 

Surabaya, 15 September 2013

Sebuah Tribute untuk #1stAnnivK51

 

MUSIKALISASI: CERITA ABADI

Sebuah cerita yang kelak kan kita banggakan

Pelipur s’gala sedu sedan yang s’lalu menyesakkan

Perjalanan panjang menggapai cita masa depan

Kita arungi dengan penuh cinta dan kasih sayang

 

Sungguhpun waktu kan menghapus semuanya

Namun rasa di dalam dada tak akan pernah sirna

Biarpun hujan meluruhkan s’galanya

Kenangan kita akan tetap terpatri dalam jiwa

 

Menjalani s’tiap detik takdirku di sini, bersama, dalam suka duka

Tak ada yang kan pergi dari hati ini, abadi, hingga kita kan menutup mata

 

 

Surabaya, 13 September 2013

Sebuah Tribute untuk #1stAnnivK51

 

PADA SEBUAH METAFORA, DI ANTARA SURABAYA-JAKARTA

Aku telah meneteskan duka  yang cantik untukmu

Duka yang belum pernah ada di air mataku

Langit biru pagi ini berkabar

Sebuah petir singgah

Dan aku terpaksa menjamunya

 

Angin berhembus tenang

Gemerisik daun, jatuh lemah gemulai

Derap lokomotif menghentak gagah

Dan peluit stasiun berdengking

Menjelma puja-puji paling sedih

 

Senyap, takzim

Aku duduk di pematang ladang

Di depan, hanya ada daun yang menguning

Dulu, seperempat windu lalu

Daun di sini tumbuh ranum menghijau

Ah, barangkali musim terlalu kejam

Atau mungkin, hama datang menyerang

Entahlah

 

Aku masih duduk takzim, berdiam

Menatap sendu pemandangan di depan

Sementara di belakang sana,

Deru kereta semakin buas membelah kesunyian

 

Sebuah metafora

Terbentang tujuh ratus dua puluh lima kilometer jauhnya

Di sepanjang Surabaya-Jakarta

 

Dan pada setiap depa derap gerbong kereta

Ada ketabahan yang aku bangun sendiri

Semakin jauh, semakin tebal

Semakin berjarak, semakin tinggi

 

Maka hari ini

Biarlah aku titipkan daun yang menguning tadi

Pada lambaian adik-adik kecil yang menatap kagum dari balik jendela

Pada punggung-punggung legam pekerja di luar sana

Pada lerai rel-rel yang takkan pernah menyatu sampai kapanpun jua

Pada debur ombak Laut Utara Pulau Jawa

Pada pasir-pasir yang selalu setia memeluk pantainya

Dan tentu saja, pada sebuah metafora yang terhampar di antara Surabaya-Jakarta

  

Kau tahu, setelah ini aku takkan menjadi apa-apa

Maka kelak,

Jika aku lewat lagi di jalan ini

Izinkan aku mengingat-ingat

Seberapa indah daun yang menguning dulu

Seberapa santun aku berdamai dengan masa lalu

Dan pastinya, seberapa besar gumpal bahagia

Saat aku mengenang itu semua

 

 

K.A. Argo Bromo Anggrek, Surabaya-Jakarta, 21 Juni 2013

 

IBUKOTA, PADA SEBUAH PEMBERHENTIAN

Siang itu

Matahari malas menampakkan diri

Gerung awan sempurna membungkus langit

Semilir angin memainkan anak rambut

Menyisakan kesenduan di hati yang renjana

 

Kau hampir saja membuat waktuku berhenti berputar

Saat tatapan sayumu menyeruak, membuat jantung menggelegak

Sekejap, ada yang tumbuh subur

Layaknya mekar bunga di musim semi

Seperti gemercik air yang jatuh dari perigi

Ah, akupun tak tahu dengan pasti

 

Sampai akhirnya aku paham

Bahwa takdir takkan salah memilih tuannya

Sapu tangan putih ini

Adalah sebab abadi

Sebuah romansa yang kelak kita jalani

 

Yesicha,

Ibukota ini, hanya mengerti kepul asap kendaraan

Ibukota ini, hanya patuh pada apa kata tirani

Tapi setidaknya,

Ibukota ini, pernah menjadi pemberhentian sebuah harapan

Harapan yang dijaga, dirawat, hingga sebesar ini

Tak perduli musim penghujan atau kemarau

Ia terus menerus tumbuh

Abadi

 

Hingga akhirnya waktu menepati janji

Sebuah resital kehilangan

Terpaksa kauciptakan sendiri

 

Di dermaga itu

Harapan karam

Siluet jingga meredup

Debur ombak menyayat hati

Di antara banyak senyum bahagia yang datang

Hanya aku yang membawa senyum perpisahan

 

Tuhan, ajar aku keikhlasan…

 

 

Surabaya, 18 Juni 2013

 

BOLEH JADI, ATAU BARANGKALI JUGA TIDAK

Boleh jadi,

Orang yang selama ini kau harap-harapkan

Adalah orang yang nanti membuatmu kecewa terlalu dalam

Boleh jadi,

Orang yang selalu berkata manis di depanmu

Adalah orang yang kelak memberi kopi pahit, pada perasaanmu

Boleh jadi,

Orang yang terlihat dapat membahagiakanmu

Adalah orang yang menjadi penyebab musim penghujan selalu bermukim di matamu

 

Boleh jadi begitu, atau barangkali juga tidak

 

Boleh jadi,

Seseorang yang jarang bersitatap denganmu

Adalah orang yang selalu menempatkanmu sebagai inspirasi, di setiap jengkal langkahnya

Boleh jadi,

Seseorang yang hanya sesekali saling sapa denganmu

Adalah orang yang selalu merapalkan do’anya untukmu, di atas sajdahnya yang biru

Boleh jadi,

Seseorang yang kau anggap angin lalu

Adalah orang yang kelak akan menjemput dan membebaskanmu, dari tawanan ‘naga besar’

 

Boleh jadi begitu, atau barangkali juga tidak

 

Boleh jadi,

Kau tidak menyukai sesuatu, padahal itu amat baik bagimu

Boleh jadi,

Kau menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu

 

Boleh jadi begitu, dan kali ini, kita tak dapat berkata “barangkali juga tidak

 

 

Surabaya, 25 Mei 2013

 

PADA SENDUNYA STASIUN KERETA

Senja kali ini begitu berbeda

Tak ada jingga yang menggurat

Juga sekelebat biru

Pada lengkung alis lazuardi

 

Di pojok sana

Kesedihan mulai menemukan jalan

Untuk kukuh dan tetap bertahan

Di hati yang rentan

 

Stasiun ini hanyalah bait-bait kesedihan

Sedang kebahagiaan, hanyalah barang langka yang tak berarti apa-apa

Juga layaknya udara, yang sesaat kemudian dihembuskan

 

Pada sendunya stasiun kereta

Tak kusangka matamu mulai hujan

Lalu kerling bintang-bintang luruh bersama air mata

Juga tempiasnya, memercik masuk ke dalam dada

 

Dan sep peluit pun dibunyikan

Asap mengepul dari bibir lokomotif

Rel-rel lerai

Peron-peron menggigil kedinginan

Kita dipaksa menyaksikan sebuah resital kehilangan

 

Dari balik jendela kereta

Hanya lambaian tanganmu yang terlihat

Aku masih belum paham

Apakah aku, kamu, atau kereta ini yang menjauh

 

Kemudian jarak kian merentang

Waktu seperti terbang ke langit

Masa lalu menguap bersama udara

Entah di mana kembali menyublim

 

Akan ada yang datang dan pergi seperti hari

Tapi, ia takkan kembali

Barangkali ia takkan kembali, tapi terus bermukim di hati

 

Kemudian aku berucap dengan pasti dan membuatmu tersenyum lalu pergi:

Aku akan kembali untukmu esok hari

 

 

Surabaya, 28 April 2013

 

DI STASIUN GAMBIR

Adalah musim yang membawaku pada Januari

Pada terik yang menikam sepi

Pada hujan yang menjadikannya puisi

 

Kini puisi Januari telah datang dengan seribu lampahan hujan

Kenangan tergenang

Oleh rintik yang getir di Stasiun Gambir

 

Sesekali kutengok lagi genangan itu

Apakah masih harum seperti dulu

Atau malah berubah kelabu

 

Ah, aku tahu

Kidung-kidung pertemuan

Tak lagi mampu menahan bulir hujan perpisahan

Jatuh, kemudian luruh

 

Hingga peluit dibunyikan

Aku masih belum paham

Apakah aku, kamu, atau kereta ini yang menjauh

 

Lalu tinggallah rel-rel dan peron yang menggigil kedinginan

Bersahut-sahutan akan pesan yang kutinggalkan:

Akan ada yang selalu datang dan pergi seperti hari

Tapi, aku akan kembali untukmu esok hari

 

Kemudian kau tersenyum, lalu pergi…

 

 

Gambir – Jakpus, 15 Januari 2013