DI SIMPANG ITU

Di simpang itu

Kala kau tebarkan senyummu

Yang terakhir, padaku

Yang terakhir? Aku pun tak tahu

 

Di simpang itu

Suasana manis pertemuan dibungkus

Menjadi kado pahit

Yang kaupaksa aku tuk terima

 

Di simpang itu

Gayung harap dikubur dalam-dalam

Sungai asa kering menunjam

Kau sayat nadiku dengan kelam

 

Di simpang itu

Langit tua yang kian menyenja

Peron-peron jalanan yang memulai nyawa

Mesin-mesin yang meradang lara

Bersenandung triaelektika sederhana, “KEJAR-CINTAMU-FA”

Tapi dengan apa kukejar?

Cambuk waktu telah bertubi menghajar

Tak kuasa kuangkat jiwa yang terkapar

 

Dan saat aku kembali ke simpang itu

Daun-daun yang bergugur seakan berlagu

Membangkitkan kembali memori berpatitur rindu

Meniupkan kembali kisah syahdu di angan otakku

Terbayang lagi fatamorgana wajahmu yang terbinar lesu

Ingin kuraih tapi ku tak bisa angkat jiwaku

Ingin kukejar tapi kau tahu aku terkapar

 

Di simpang itu

Kuucapkan terima kasih atas kehadiran yang menggelora jiwaku

Dan aku tak akan menunggumu di simpang itu

Aku akan tetap belajar, berdagang, dan hidup seperti biasa

Seperti kala kau mengetukku dulu

 

Tuhan, ajar aku keikhlasan…

 

 

Srengseng Sawah – Jaksel, 1 Juli 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s