DI STASIUN PASAR TURI

Kala itu aku turun dari taksi

Langit ngeri

Badai tak henti mengiringi

Bulir hujan pecah tanpa arti

 

Ya, di Stasiun Pasar Turi

Tempat segala rindu kuhempaskan

Tempat segala harap kupanjatkan

Obat segala sedu sedan yang menyedihkan

 

Di Stasiun Pasar Turi

Di tengah gemercik air yang menimpa atap

Pramu antar menjajakan jasanya dengan tegap

Tak peduli pipi sembab atau pikiran kalap

Demi adanya nasi untuk disuap

 

Di Stasiun Pasar Turi

Aku mulai berimaginasi

Membawa asaku yang kian meninggi

Lamat-lamat hatiku percikkan isyarat

Bahwa rindu yang menyekap, kan segera mendapat obat

Bahwa sepi yang mendera, kan mendapat pelipurnya

 

Setiap kali kuinjakkan kaki di Stasiun Pasar Turi

Selaksa gembira merasuk ke diri

Bahwa dari sana kan kutemui lagi

Sajak-sajak yang hilang

Puisi-puisi yang meradang

Kidung-kidung ilalang

Yang sempat aku buat di pematang ladang

 

Tunggu aku di kota itu

Kota yang langitnya begitu biru

Kota yang senjanya abu-abu

Kota di mana sebait wicara

Pernah kita dekapkan pada stasiun tua

 

Lalu sep peluit dibunyikan dan lokomotif pun berjalan

Sampai jumpa Stasiun Pasar Turi

Semoga tempias hujan tak sampai hati, membuat peronmu jadi konfeti

Semoga rel-rel tetap tegar, akan rintik yang begitu hingar

Semoga kan kutemukan, secuil hati yang masih tersimpan

di stasiun kenangan…

 

 

Surabaya, 14 Januari 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s