IBUKOTA, PADA SEBUAH PEMBERHENTIAN

Siang itu

Matahari malas menampakkan diri

Gerung awan sempurna membungkus langit

Semilir angin memainkan anak rambut

Menyisakan kesenduan di hati yang renjana

 

Kau hampir saja membuat waktuku berhenti berputar

Saat tatapan sayumu menyeruak, membuat jantung menggelegak

Sekejap, ada yang tumbuh subur

Layaknya mekar bunga di musim semi

Seperti gemercik air yang jatuh dari perigi

Ah, akupun tak tahu dengan pasti

 

Sampai akhirnya aku paham

Bahwa takdir takkan salah memilih tuannya

Sapu tangan putih ini

Adalah sebab abadi

Sebuah romansa yang kelak kita jalani

 

Yesicha,

Ibukota ini, hanya mengerti kepul asap kendaraan

Ibukota ini, hanya patuh pada apa kata tirani

Tapi setidaknya,

Ibukota ini, pernah menjadi pemberhentian sebuah harapan

Harapan yang dijaga, dirawat, hingga sebesar ini

Tak perduli musim penghujan atau kemarau

Ia terus menerus tumbuh

Abadi

 

Hingga akhirnya waktu menepati janji

Sebuah resital kehilangan

Terpaksa kauciptakan sendiri

 

Di dermaga itu

Harapan karam

Siluet jingga meredup

Debur ombak menyayat hati

Di antara banyak senyum bahagia yang datang

Hanya aku yang membawa senyum perpisahan

 

Tuhan, ajar aku keikhlasan…

 

 

Surabaya, 18 Juni 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s