PADA SENDUNYA STASIUN KERETA

Senja kali ini begitu berbeda

Tak ada jingga yang menggurat

Juga sekelebat biru

Pada lengkung alis lazuardi

 

Di pojok sana

Kesedihan mulai menemukan jalan

Untuk kukuh dan tetap bertahan

Di hati yang rentan

 

Stasiun ini hanyalah bait-bait kesedihan

Sedang kebahagiaan, hanyalah barang langka yang tak berarti apa-apa

Juga layaknya udara, yang sesaat kemudian dihembuskan

 

Pada sendunya stasiun kereta

Tak kusangka matamu mulai hujan

Lalu kerling bintang-bintang luruh bersama air mata

Juga tempiasnya, memercik masuk ke dalam dada

 

Dan sep peluit pun dibunyikan

Asap mengepul dari bibir lokomotif

Rel-rel lerai

Peron-peron menggigil kedinginan

Kita dipaksa menyaksikan sebuah resital kehilangan

 

Dari balik jendela kereta

Hanya lambaian tanganmu yang terlihat

Aku masih belum paham

Apakah aku, kamu, atau kereta ini yang menjauh

 

Kemudian jarak kian merentang

Waktu seperti terbang ke langit

Masa lalu menguap bersama udara

Entah di mana kembali menyublim

 

Akan ada yang datang dan pergi seperti hari

Tapi, ia takkan kembali

Barangkali ia takkan kembali, tapi terus bermukim di hati

 

Kemudian aku berucap dengan pasti dan membuatmu tersenyum lalu pergi:

Aku akan kembali untukmu esok hari

 

 

Surabaya, 28 April 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s